Perjalanan Pulang Kerja (Sholat)

Jarak antara gerbang dan lobby kantor adalah sekitar 800 meter. Jalannya terbuat dari paving dan medannya naik turun cukup tajam. Ketika perjalanan keatas atau ke kantor, anda bisa melihat Gunung Arjuna di depan hidung anda dan dalam perjalanan turun, anda bisa melihat hamparan Kabupaten Pasuruan di kaki anda. Pemandangan yang menurut saya sangat menakjubkan. Tapi sore itu saya menemukan pemandangan lain untuk pertama kalinya.

Jam pulang kantor adalah setengah lima sore. Kawasan kantor saya berada di lereng gunung Arjuna yang sangat dingin dan kadang berkabut sehingga sebelum mengendarai motor untuk pulang, saya selalu memanaskannya terlebih dahulu. Setelah memakai jaket, jaket kedua, masker, kacamata dan helm, saya menuju gerbang untuk presensi. Tepat saat saya menghentikan motor, saya melihat salah satu security sedang melaksanakan sholat.

Sholat adalah kewajiban sebagai seorang muslim. Tapi dulu saya seakan memiliki pilihan untuk sholat atau tidak. Ketika saya kecil, saya suka berpuasa tapi sholat adalah urusan lain. Saya berzakat dan bersedekah, tapi sholat adalah urusan lain. Saya tidak hafal bacaan sholat sampai saya kelas lima atau enam SD. Ironis jika mengingat bahwa keluarga saya adalah pendukung salah satu Partai Islam dan anggota kelompok Islam terbesar di Jawa Timur. Saya lahir sebagai seorang muslim. Saya tidak memilih Islam menjadi agama saya sampai saya berusia sekitar 14 tahun. Tentu memilih untuk menjadi Islam, dan sholat adalah urusan lain.

Ketika saya berada di bangku sekolah, saya beberapa kali bermimpi hal yang selama ini tidak pernah saya ceritakan kepada orang lain selain keluarga saya. Saya bermimpi berdiri di depan kaca dan melihat seberapa kotor kulit saya dibalik baju yang saya kenakan. Saya bermimpi mendapat tumpangan gerobak dari seorang berjubah yang menasehati saya untuk tidak melihat sesuatu dari luarnya saja. Saya bermimpi dikejar sekelompok orang dan kemudian bertemu dengan Nabi Muhammad SAW yang berbentuk cahaya bersinar, mengelus kening saya dan seakan berkata untuk saya terus memperbaiki iman saya. Ketiga mimpi tersebut terjadi berselang tahun dan saya menangis saat bangun dari ketiga mimpi tersebut.

“Sounds easy to tell that?” It actually is not.

Apa itu mimpi? Apakah saya benar-benar bertemu dengan Nabi Muhammad? Ketika saya belajar Psikologi, saya belajar bahwa mimpi adalah bagian dari sesuatu yang kita tekan ke alam unconsciousness dan subconsciousness. Menurut orang Jawa, setiap mimpi memiliki arti, peringatan, dan pertanda akan masa depan. Menurut Islam, mimpi adalah bunga tidur kecuali mimpi yang terjadi di sepertiga malam terakhir. Who knows? Tapi mimpi tersebut membuat saya mengevaluasi diri saya dan mencoba menjadi pribadi yang lebih baik. Walaupun terkadang, lebih baik belumlah cukup.

6 tahun yang lalu ketika saya sedang mengunjungi kuil umat Hindu di Vancouver, saya berkata “It doesn’t even make sense. I mean, Reincarnation? What?” dalam sebuah diskusi dengan teman dan guru saya. Perkataan itu adalah perkataan yang selalu saya ingat sampai sekarang karena perkataan itu mengingatkan saya betapa saya bisa dibutakan oleh ego keimanan saya terhadap sesuatu sehingga saya menjadi bodoh dan tidak tahu bagaimana menjadi decent human being. Guru saya, Mrs. Lisa, dengan cepat menyambar pernyataan saya dengan membalas “Yes, it doesn’t make sense. It doesn’t have to. That’s why it’s called faith. I am sure there are parts of Islam that doesn’t make any sense but you believe it anyway.”

BURN BABY BURN!!! That’s what teenager nowadays might say.

Bagaimana saya bisa berkata seperti itu terhadap agama lain? How ignorance was that? Saya marah ketika seseorang berkata “Your God, Muhammad, or whatever…” tapi saya mengatakan hal tersebut tentang agama lain? How hypocrite! Saya tidak ingin orang lain menyepelekan kepercayaan saya dan saya tidak boleh menyepelekan kepercayaan orang lain. Period.

Semenjak saat itu saya belajar untuk menghormati kepercayaan orang lain. Saya belajar untuk menjaga kehormatan kepercayaan saya dengan menjaga kehormatan kepercayaan orang lain. Menjadi seorang muslim dengan sholat, berpuasa, dan menjalankan sunnah tidaklah cukup. Sebagai makhluk sosial, kita juga harus belajar untuk hidup berdampingan dengan orang lain, orang yang mungkin memiliki cara mereka sendiri untuk beribadah dan Tuhan lain untuk disembah.

Ngomong-ngomong, bukan karena Bapak Security sedang sholat yang membuat saya tertegun, tapi lokasi ia menunaikan sholat. Saya seakan melihat salah satu scene Adzan Maghrib di Televisi.

Do you see how easy it is to wonder?

30 menit kali dua adalah waktu yang saya miliki untuk sendiri. Saya tidak bersama siapapun, saya tidak harus/bisa berbicara pada siapapun. Dalam 30 menit, banyak hal yang bisa terjadi. Saya bisa terinspirasi, saya bisa tergerak, saya bisa melihat sesuatu yang tidak saya sadari sebelumnya. Dan 30 menit itu adalah Perjalanan Pulang Kerja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s