Perjalanan Pulang Kerja (Prolog)

 

Berapa waktu yang anda habiskan untuk perjalanan menuju dan pulang kerja? Saya butuh waktu antara 30-60 menit. Waktu tersebut sangat dipengaruhi oleh pukul berapa saya keluar kantor, hari, dan kendaraan apa yang saya gunakan. 30 menit bukanlah waktu yang sebentar, 30 menit bisa saya gunakan untuk mengecek dan membalas sekitar 8 email, screening awal untuk kurang lebih 30 pelamar, atau sejenak menyeruput coklat panas di meja kantor sembari mengamati burung merak yang berkeliaran bebas dari jendela. Saya sadar perjalanan itu harus dilakukan karena jikalau saya memutuskan untuk tinggal 5 menit jauhnya dari kantor, saya yakin akan memilih untuk meninggalkan rumah 25 menit lebih lambat dari biasanya. Jadi apa yang anda lakukan pada perjalanan menuju atau pulang kerja?

“Err, driving?” Obviously.

Beberapa minggu yang lalu ketika saya pulang dari kantor, saya melihat seorang pemulung. Ia mungkin berusia tidak lebih dari 20 tahun. Ia sedang duduk di pinggir jalan dan disampingnya terlihat sepeda kayuh model tua dengan dua kantong rongsokan yang terbuat dari kayu di tempat duduk belakang. Di Jogja, pemulung biasanya berjalan kaki dengan membawa karung besar dan kayu atau pisau, disini hampir semua pemulung mengendarai sepeda kayuh yang mirip dengan sepeda yang dimiliki mas pemulung tersebut. Mungkin karena jarak dari rumah kerumah dan desa ke desa lumayan jauh, maka masuk akal jika para pemulung tidak berjalan kaki.

Ada tiga hal yang menarik perhatian saya. Pertama, saya tidak pernah melihat pemulung dengan usia muda. Sebagian besar pemulung yang saya lihat mungkin berusia diatas setidaknya 40 tahun dan banyak dari mereka berusia diatas 50 tahun. Kenapa mas tersebut memutuskan untuk menjadi pemulung diusia muda? Pikir saya. Bukankah ia bisa melakukan hal lain? atau tidakkah dia ingin melakukan hal lain? Orang lanjut usia tidak memutuskan untuk menjadi pemulung, hidup yang menuntut mereka untuk memiliki penghasilan dan menjadi pemulung terkadang adalah pilihan terakhir mereka. Tapi, kenapa Anda? Bukankah lebih baik Anda melanjutkan pendidikan? Atau melamar pekerjaan disuatu perusahaan atau pabrik? Apakah ada kendala biaya, kemampuan, atau kemauan? Saya merasa sedikit kecewa dengan keputusan Mas tersebut walaupun saya sendiri sebenarnya tidak tahu apa saja yang ia telah lalui. Lalu saya teringat dengan pengamen. Memang tidak banyak pemuda yang menjadi pemulung, tapi mereka menjadi pengamen.

Jreng, jreng. Cepluk… 500. Cepluk… 1000

Kedua, saya tidak hanya melihat ia sedang duduk ditanah dipinggir jalan disamping sepeda kayuhnya, saya juga melihat ia sedang bermain ponsel. Saya paham bahwa saat ini jaman sudah maju, teknologi sudah semakin terjangkau, ponsel adalah kebutuhan primer manusia. Saya sadar bahwa mungkin saja semua anak muda sekarang memiliki ponsel pintar, termasuk anak muda yang berprofesi sebagai pemulung. Namun saya juga tidak bisa berbohong bahwa pemandangan itu mengejutkan. Saya mulai berprasangka buruk bahwa ia hanya menggunakan ponsel tersebut untuk kesenangan semata, untuk facebook, Whatsapp, menulis status galau, tanpa melihat potensi apa yang ia miliki dengan ponsel tersebut. Lalu saya sadar sekali lagi, SAYA TIDAK TAHU APA-APA TENTANG DIA. Saya tidak tahu jika mungkin ponsel tersebut ia beli dari hasil memulung. Saya tidak tahu jika mungkin ia sedang merencanakan sesuatu untuk dirinya dan masa depannya. WHO AM I TO JUDGE?

Hal ketiga yang menarik perhatian saya adalah fakta bahwa saya tidak berhenti. Saya memiliki berbagai prasangka tentang dia, but I did not bother to stop. Bahkan untuk sepersekian detik saya berpikir untuk berhenti “hanya” untuk memotret mas tersebut karena saya teringat beberapa tahun lalu sebuah institusi mengadakan lomba foto tentang teknologi dan masyarakat desa. Why didn’t I stop? Apakah karena waktu itu sudah terlalu sore? Apakah saya tidak tahu apa yang akan saya katakan padanya? Apakah saya tahu bahwa saya akan mengatakan hal yang salah padanya? Apakah saya takut menjadi sok akrab dan sok peduli? Apakah sebenarnya saya tidak cukup peduli? Apakah saya takut saya tidak bisa membantunya? Apakah saya takut ia tidak butuh bantuan saya? Saya tidak tahu atau saya takut untuk mencari tahu kenapa?

“Will you? Will you stop?”

30 menit kali dua adalah waktu yang saya miliki untuk sendiri. Saya tidak bersama siapapun, saya tidak harus/bisa berbicara pada siapapun. Dalam 30 menit, banyak hal yang bisa terjadi. Saya bisa terinspirasi, saya bisa tergerak, saya bisa melihat sesuatu yang tidak saya sadari sebelumnya. Dan 30 menit itu adalah Perjalanan Pulang Kerja.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s