Pemimpin-pemimpin Bangsa yang Terbelah (The Leaders of Divided Nations)

Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, beberapa negara di didunia telah menghadapi pemilihan Kepala Pemerintahan yang sangat bersejarah. Bersejarah bukan Karena pemimpin tersebut adalah pemimpin yang telah didambakan bangsanya sejak lama namun bersejarah karena pemilihan tersebut telah berperan membuka keterpecahan nilai fundamental yang selama ini hanya tertutup persoalan tersier.

Dimulai dari Amerika dengan Trump vs Clinton, Inggris dengan Brexit vs remainers, Dutch with Wilders vs Rutte, Turkey dengan Erdogan dan UU barunya, Indonesia dengan Prabowo vs Jokowi (hampir 3 tahun lalu), Ahok vs “Islam” dan France dengan Le Pen vs pro-EU.

Peristiwa-peristiwa diatas sebenarnya memiliki pola yang sama. Terjadi karena alasan yang hampir sama dan memperjuangkan hal yang sejenis.

  1. Amerika (Trump vs Clinton)

Dikutip dari laman berita online CNN, Trump memenangkan 306 electoral votes dengan 46.4% popular votes sedangkan Hillary mendapatkan 232 electoral votes dengan 48.5% popular votes. Untuk mengetahui cara kerja electoral votes dapat anda pelajari di link ini. Secara popular votes, keduanya hanya berbeda 2.1%. Kedua kandidat memiliki basis pendukung yang berbeda. Trump memiliki dukungan kelompok kanan atau konservatif yang dinilai “anti” imigrasi(1) dan juga dinilai anti-Islam(2). Sedangkan basis pendukung Hillary Clinton adalah kelompok kiri atau liberal yang dinilai “pro” imigran(3).

Kampanye hitampun kerap menyerang kedua kandidat POTUS. Trump diserang dengan isu persekongkolannya dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Ia juga dianggap didukung oleh KKK (kelompok rasis ekstrim). Namun Trump mempunyai basis pendukung yang fanatik sehingga kasus penipuan Trump University dan pelecehan seksual yang menjeratnyapun tidak menurunkan elektabilitas Trump. Berbeda dengan Hillary Clinton yang diserang karena penggunaan email pribadinya untuk urusan kenegaraan saat menjabat menjadi Secretary of State(4). Hal itu menjadi salah satu faktor menurunnya elektabilitas Clinton dan kekalahannya pada Pemilihan Presiden 2016 walaupun pada akhirnya tidak terbukti adanya data penting yang bocor dari email Hillary Clinton. Setelah pemilihan presiden berakhir, terungkap bahwa Trump juga dalam proses investigasi FBI pada saat maju menjadi calon presiden.

  1. Inggris (Brexit or Remain?)

Pengambilan suara untuk tetap menjadi bagian dari EU atau meninggalkan EU adalah janji dari Perdana Menteri Inggris kala itu, David Cameron. Ia berjanji bahwa ia akan mengadakan referendum untuk menentukan posisi Inggris agar tetap menjadi bagian Ekonomi dan Politik Eropa atau mundur. Semenjak tercetusnya agenda referendum, dibentuk dua kubu kampanye yakni “Leave” dan “Remain”. Kubu “Leave” atau yang ingin meninggalkan EU mendapatkan suara sebesar 51.9% sedangkan kubu “Remain” atau “Stay” mendapatkan suara sebesar 48.1%.

Kedua belah kubu memiliki pandangan yang berbeda akan masa depan Inggris. Kubu “Leave” memandang bahwa Inggris tidak dapat berkembang jika harus “membiayai” Uni Eropa, kebijakan Uni Eropa mengenai pengungsi juga dianggap mengganggu stabilitas nasional. Kubu “Remain” berpendapat bahwa open border tidak dapat dihindari lagi. Negara harus saling bekerjasama demi kebaikan bersama.

  1. Indonesia (Jokowi vs Prabowo)

Hal yang serupa telah terjadi di Indonesia pada tahun 2014 silam. Kala itu kandidat presiden yang diusung adalah Jokowi dan Prabowo. Jokowi memperoleh suara 53.15% sedangkan Prabowo mendapatkan suara 46.85% (BBC Indonesia). Kedua kandidat dinilai membawa nilai yang berbeda. Basis suara Jokowi didapat dari partai yang mengusungnya, PDI Perjuangan. Prabowo berasal dari Gerindra, namun suara Prabowo banyak didapat dari salah satu partai pendukungnya yang militan, yakni PKS. Sehingga dapat terlihat dengan jelas perbedaan nuansa kampanye yang dibawa oleh kedua kubu.

PDIP merupakan partai yang lebih mengarah pada nasionalisme sedangkan PKS lebih mengarah ke nuansa Islam. Hasil dari pilpres 2014 juga dapat menunjukkan peta kekuatan politik kedua kubu. Prabowo unggul di beberapa daerah dengan basis Islam yang “kuat” seperti Jawa Barat, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Barat. Sedangkan Jokowi unggul di berbagai daerah lain termasuk daerah dengan penduduk muslim yang relatif sedikit (dibanding dengan daerah lain), seperti Papua, Sulteng, Sulut, Sulbar, dan Kalimantan (source).

Terjangan kampanye hitampun tak luput terjadi selama masa Pilpres 2014. Yang tak berbeda dari Pilpres 2014 dan Pilgub DKI 2017 adalah dibawanya SARA terutama Agama. Jokowi yang telah secara jelas beragama Islam, diserang dengan isu bahwa Jokowi tidak beragama Islam. Ahok yang tidak beragama Islam, diterjang isu penistaan agama. Hasil Pilgub DKI-pun sebenarnya sudah dapat diprediksi semenjak serangangan kampanye hitam yang mengarah pada Ahok yang berpusar pada agama. Pilpres 2014 lalu seakan membuka keterpecahan Indonesia secara dasar dalam melihat masa depan Indonesia.

 

PERSAMAAN

Dari ketiga contoh diatas, terdapat beberapa persamaan. Pertama, keduanya memiliki dua kubu yang hampir sama kuat. Dalam kasus Pemilihan Presiden Amerika Serikat, terdapat kandidat lain selain Trump dan Clinton namun mereka bukanlah kandidat populer sehingga persaingan hanya terjadi antara Trump dan Clinton. Adanya dua kubu yang berkompetisi dalam suatu pemilihan mempertajam perbedaan yang ada. Satu kubu tidak akan mencoba untuk mengambil hati seluruh pemilih namun menyasar pada satu segmen. Trump dan kubu “Leave” memiliki pangsa pemilih yang sama yakni masyarakat yang “takut” akan globalisasi, mereka menyuburkan ketakutan akan imigran, Islam, dan perbedaan. Besarnya gelombang pengungsi dan aktivitas terorisme di Eropa memupuk kekuatan pendukung Trump dan kubu “Leave” sehingga membantu kemenangan kubu tersebut. Di sisi lain, Clinton dan kubu “Stay” adalah masyarakat yang terbuka terhadap globalisasi. Kebanyakan dari kubu ini adalah millennial atau masyarakat dibawah usia 40 tahun. Di Indonesia “nilai” yang dibicarakan sedikit berbeda. Jika pertarungan di Negara maju seperti Amerika dan Inggris berbicara tentang keterbukaan secara global maka di Indonesia sebagai Negara yang sedang berkembang masih membicarakan perbedaan di dalam satu Negara. Segmen pemilih Prabowo dan PKS adalah warga muslim yang agak “resistant”, sedangkan segmen pemilih Jokowi dan Basuki adalah warga Indonesia yang lebih terbuka akan perbedaan. Hal ini dapat dilihat dari kampanye terbuka, tertutup, dan kampanye terselubung kedua kubu. Pendukung Prabowo dan PKS menggaungkan prinsip bahwa Muslim harus memilih pemimpin Muslim. Sedangkan Jokowi dan PDI menggaungkan prinsip Islam “Radikal” memecah NKRI.

Kedua, dengan kekuatan kedua kubu yang hampir setara maka gesekan orang dari kubu yang berbeda akan sangat terasa. Ketika satu kubu tidak “kalah telak” maka kubu tersebut merasa masih memiliki kekuatan yang sama kuat sehingga akan sulit menerima sebuah kekalahan.

Ketiga, isu SARA. Isu SARA masih terbawa dalam berbagai pemilihan seorang pemimpin. Bahkan, di Negara maju sekalipun. Yang berbeda adalah sasaran isu SARA tersebut. Di Amerika dan Inggris, isu SARA ditujukan pada Masyarakat keturunan Timur Tengah dan Muslim. Sedangkan di Indonesia kicauan SARA ditujukan kepada non-muslim. Contoh yang paling baru adalah kampanye hitam yang dilayangkan kepada Basuki atau Ahok dalam Pilihan Gubernur DKI 2017. Kampanye tersebut banyak dilakukan dalam dakwah-dakwah di masjid, social media maupun melalui spanduk-spanduk (source 1, source 2, source 3). Ancamanpun dilayangkan kepada para muslim yang mendukung Ahok dengan tidak mensholati jenazahnya. Para muslim garis keras berbondong-bondong memanggil berbagai pihak sebagai kafir. Sangat berbeda dengan Pemilihan Presiden 2009, isu SARA saat itu menerpa kubu SBY-Budiono yang didukung Partai Demokrat dan PKS. Kader PKS kemudian menyampaikan bahwa mengkafirkan seseorang sangat tidak dibenarkan dalam Islam. Sebab, mengkafirkan seseorang berarti tergolong orang-orang kafir (source).

Keempat, adanya protes. Gelombang protes terjadi setelah diketahui hasil dari pemilihan. Di Amerika Serikat, sampai saat ini masih terjadi beberapa protes terkait terpilihnya Trump sebagai Presiden. Tahun 2014 lalu di Indonesia, masih teringat jelas huru-hara hasil quick count. Semua quick count memenangkan pasangan Jokowi-JK dan satu quick count memenangkan Prabowo-Hatta, yakni Quick count milik PKS (source). Hasil quick count tersebut menjadi dasar deklarasi kemenangan prematur Prabowo ketika itu yang akhirnya berujung pada pengunduran diri Prabowo dari Pemilihan Presiden 2014.

PENDEKATAN

Berbeda Negara, berbeda pemimpin, berbeda pula pendekatan yang dilakukan. Theresa May adalah Perdana Menteri pengganti David Cameron seusai pengunduran dirinya terkait hasil referendum Inggris. Walaupun ia tercatat pada kampanye “stay” saat referendum, ia berjanji untuk menjalankan keputusan referendum dengan sebaik-baiknya. Namun, belum ada langkah kongkrit untuk menyamakan perspektif akan BREXIT kepada para warga Inggris padahal kampanye Brexit penuh dengan miskonsepsi.

Tidak jauh berbeda dengan May, Trump tidak mencoba untuk menjadi presiden dari kedua kubu yang ada di Amerika Serikat. Pidato kemenangannya sebenarnya cukup bagus dalam ukuran Trump, namun pidato pelantikannya tidak merepresentasikan posisinya sebagai POTUS. Tidak hanya itu, kicauan-kicauannya di Twitter juga sangat penuh kontroversi dan dianggap tidak layak (contoh 1, contoh 2, contoh 3). Selama ini ia juga telah memplokamirkan tuduhan-tuduhan kepada Presiden Amerika Serikat sebelum masanya, Barack Obama. Ia menuduh bahwa Obama adalah Muslim dan bukan warga Negara Amerika Serikat.

Di Indonesia, pendekatan yang dilakukan Presiden Jokowi lebih baik. Presiden Jokowi berkunjung ke pesantren dan masjid-masjid mencoba mempersatukan Indonesia. Jokowi bisa saja bertindak seperti Trump, dengan masih mengungkit permusuhan selama kampanye dan fitnah-fitnah yang dialamatkan pada dirinya, namun hal itu tidak dilakukan karena akan menyakiti masa depan Indonesia. Pendekatan selanjutnya adalah pendekatan respon yang harusnya dilakukan oleh pihak-pihak yang selama ini mengkampanyekan intoleransi dan kepentingan kelompok. Kubu tersebut bertanggungjawab atas kerugian moral yang dialami bangsa Indonesia. Anies Baswedan, Gubernur terpilih, diharap dapat mengikuti jejak Presiden Jokowi untuk merangkul semua pihak.

HASIL

Kampanye hitam seringkali ditujukan kepada orang-orang dengan akses informasi yang terbatas. Trump menggunakan berita FoxNews untuk memenangkan agendanya. Seluruh kegiatan positif Trump ditayangkan di FoxNews namun seluruh berita negative tentang Trump termasuk kasus yang sedang menjerat dirinya tidak ditanyangkan disana. Ia menyerang Hillary dengan skandal email dan berbagai tuduhan lainnya. Ia memanggil semua berita selain FoxNews adalah palsu. Hebatnya, pemilihnya percaya padanya tanpa keraguan. FoxNews dianggap sebagai satu-satunya sumber terpercaya padahal selama ini FoxNews adalah termasuk situs berita yang tidak kredibel.

Untuk memperoleh kekuasaannya, Trump menyasar masyarakat miskin dan menjanjikan perubahan kehidupan, ia berjanji akan mendonasikan seluruh gajinya. Namun kenyataannya, ia memang mendonasikan gajinya bagi Negara namun ia menghabiskan 200.000 dollar uang Negara untuk bisnisnya (Mar-a-Lago) tiap kali berkunjung. Ia dan Negara mempromosikan bisnis anak Trump dan mengangat anak Trump sebagai penasihatnya di Gedung Putih. Selama ini ia selalu menuntut perubahan dari Presiden Obama dan hasil 100 hari pertama Presiden Obama, ia juga mengungkapkan bahwa ia akan menyelesaika banyak hal dalam 100 hari pertamanya, tapi ia baru-baru ini meng-klaim bahwa perhitungan seratus hari itu tidak realistis. Janjinya untuk tidak ikut campur dalam perang Timur Tengahpun ia langgar dengan mengebom beberapa titik di Suriah.

Kemenangan Trump menyiratkan pesan yang simbolis bagi sebagian orang. Banyak pendukung Trump merasa bahwa mereka tidak sendirian untuk membenci para imigran dan muslim. Setiap peristiwa teror di berbagai belahan dunia digunakan untuk menjustifikasi penilaian terhadap umat Islam. Hal inilah yang ditakutkan oleh kubu kiri, kebencian terhadap perbedaan. Hal yang serupa terjadi di Inggris setelah hasil referendum Inggris diumumkan, kejahatan berbasis kebencian meningkat, banyak minoritas yang menjadi target kejahatan SARA (source, source). Hal ini pulalah yang ditakutkan banyak pihak menyusul menangnya Anies-Sandi di Pilkada Jakarta. Mereka takut akan terjadi banyak kejahatan pada warga minoritas. Toleransi yang menjadi dasar kehidupan, seakan-akan bukan kemampuan primer yang harus dimiliki seseorang.

CATATAN

“Jangan menilai orang ketika beribadah, nilai orang ketika berpolitik,” anonim.

Tulisan ini tidak akan menjangkau masyarakat yang selama ini menjadi korban provokasi kampanye hitam, namun akan menjangkaumu, orang yang berpendidikan dengan segala kecukupanmu dan kemampuanmu untuk menyebarkan kebenaran.

***

  • Trump memiliki dukungan kelompok kanan atau konservatif yang dinilai “anti” imigrasi karena mendukung didirikannya dinding perbatasan US-Meksiko, deportasi imigran illegal, serta tidak menerima pengungsi dari Timur Tengah.
  • Pendukung Trump dinilai anti-Islam karena mendukung rencana pengawasan masjid secara ketat serta pemeriksaan yang lebih ketat pada muslim/warga Negara Timur Tengah di imigrasi.
  • Pendukung Hillary Clinton adalah kelompok kiri atau liberal yang dinilai “pro” imigrasi karena mendukung datangnya pengungsi korban perang di Timur Tengah. Kelompok liberal juga dinilai bukan “True American” karena membela kaum muslim dan para imigran. Sebagian pendukung Hillary Clinton berasal dari pendukung Bernie Sanders yang gagal mengalahkan Clinton di konvensi partai Demokrat.
  • Pada saat ia menjadi kandidat presiden, ia sedang berada dalam investigasi FBI atas pelanggaran yang dilakukannya tersebut. Pendukung Trump menuntut Hillary Clinton dipenjara akan kesalahannya yang dinilai menyebabkan terjadinya tragedi Benghazi pada 2012 lalu.

Ade Lily R. A. Uktubara

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s